Anapholis Mercusian

Anapholis Mercusian adalah cikal bakal dari terbentuknya unit Mapala di kampus kami STMIK Mercusuar. Ide ini tercetus dari teman saya yang ingin sekali membentuk unit Mapala di kampus… lalu saya bilang ke dia ya sudah kita jalankan aja kegiatan pertama sambil mencari bibit terbentuknya unit Mapala Anapholis Mercusian..  Setelah berkoar-koar di FB dan pamflet maka terkumpullah beberapa anggota yang siyap untuk pendakian perdana Mapala Anapholis Mercusian Asep, Derry, Rohim, Marsyah, Rahman, Adrian, Dhika, Ayu, Uli, Ria, Badrudin, Usman, Finda, Julius, Tole, Uple, Ujang, Eriek, Ade, Ipul dan Romli. Pendakian pertama kita fokuskan dengan tema “Hiking Fun Mount Gede-Pangrango”  pada tanggal 22-24 Juni 2012. Sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Gede hingga sampai di kampus tercinta dipenuhi dengan canda tawa, walaupun jalur yang kita lalui lumayan menguras tenaga bagi yang baru mendaki lagi dan khususnya pemula…🙂🙂

Setelah kegiatan tersebut dilaksanakan seluruh anggota mempunyai keseriusan untuk membentuk unit Mapala di kampus, Karena kesamaan misi dan visi diantara anggotanya terbentuklah Mapala Anapholis Mercusian. Nama ini terinspirasi dari bunga abadi yang biasanya hanya ada di pegunungan, ya itulah nama latin dari bunga edelweis..

Sekilas tentang Edelweis (Anaphalis) :

Edelweis (Anaphalis) atau biasa dikenal dengan si Bunga Abadi. Tumbuhan ini adalah tumbuhan endemik yang dapat mencapai ketinggian sekitar 8-9 m dan biasa hidup di daerah pegunungan dan sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian. Bunga ini juga melambangkan sosok wanita yang sulit didapat, berharga, istimewa dan dilindungi. Entah ini mitos atau bukan, tapi dibalik kecantikannya memang tersimpan makna yang sangat besar dan luar biasa. Beberapa makna tersebut bisa dilihat dari uraian di bawah :

– Disebut sebagai perlambang cinta dan penuh ketulusan karena mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang (biasanya) putih.

– Untuk mendapatkannya pun penuh dengan pengorbanan yang sangat berat, karena harus mendaki-menuruni puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi yang merupakan habitatnya. Butuh perjuangan yang keras. Tak jarang, nyawa pun menjadi taruhan. Oleh karena itu sering disebut sebagai lambang pengorbanan.

– Meskipun telah dipetik, bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Dari sinilah tersebut lambang keabadian.

Banyak lagi yang bisa diperhatikan dan diamati dengan lebih seksama dari si bunga yang indah ini. Kalau dilihat dari uraian diatas memang ada benarnya.

Sungguh luar biasa!
Tak pernah kumengerti bagaimana proses diciptakannya bunga ini.

ya itu lah sekilas tentang Edelweis (Anaphalis) yang menginspirasi nama dari unit Mapala di STMIK Mercusuar…

Sedikit oleh-oleh dari kegiatan “Hiking Fun Mount Gede-Pangrango”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Semoga perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian selalu ada di dalam hati ANAPHOLIS MERCUSIAN di manapun berada…………….. cemunguuuuuuutttttttt…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: